02/08/22

Majelis Duka Asyura Dilakukan Ulama Sunni Abad 6 Hijriyah

Sekitar dua atau tiga hari yang lalu ini saya menemukan dokumen sejarah berharga yang berasal dari abad ke-6 H. Bisa dibilang catatan ini terpinggirkan, sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah dikemukakan khususnya di tanah air kita ini. Di antara peninggalan penting ‘Abdul Jalil bin Abi Husain al-Qazwini, ulama abad ke-6 H yang dikenal kepandaian, kesalehan dan kemuliaan akhlaknya, adalah karyanya yang berjudul Ba‘adh Matsalib al-Nawashib fi Naqdh Ba‘adh Fadhaih al-Rawafidh. Menurut Sayyid Muhammad Hadi al-Milani dalam Qadatuna Kaifa Na’rifuhum jilid 5, halaman 558, buku ‘Abdul Jalil al-Qazwini itu selesai ditulis sekitar tahun 560 H. 

01/08/22

Apa itu Dzikir?


Dzikir ditinjau secara etimologi bermula dari kata “dzakara” yang diartikan sebagai menyebut, mensucikan, menggabungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, memberi dan nasehat. Dengan begitu dzikir berarti mensucikan dan mengagungkan, juga dapat diartikan menyebut dan mengucapkan nama Allah atau menjaga dalam ingatan (mengingat).

Ditinjau secara terminologi dzikir merupakan suatu usaha manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengingat Allah dan mengingat keagungan-Nya. Adapun realisasi untuk mengingat Allah dengan cara memuji-Nya, membaca fiman-Nya, menuntut ilmu-Nya dan memohon kepada-Nya.

31/07/22

JADI SYIAH? KENALI DAN LAKSANAKAN TAKLIFMU! [by Dr. Muhsin Labib]

Pengikut mazhab ini sedikit bukan karena dibenci para pemegang status quo dan kuasa kultural atas umat juga bukan dalil-dalil kebenarannya tidak banyak dan tidak kuat tapi mungkin karena konsekuensinya sangat berat bila dianut. Bahkan sebagian yang merasa sebagai penganutnya pun enggan menerima konsekuensi praktisnya. Mungkin salah satu indikatornya adalah lemahnya respon terhadap terhadap tema taklif dan besarnya antusiasme terhadap tema-tema lain yang tak memantulkan konsekuensi praktis seperti mistisme, doa, sejarah dan lainnya.

30/07/22

Delapan Kesalahan dalam Mengkaji dan Menilai mazhab Syiah [by Muhammad Bhagas, S.Ag]

Secara umum, ada beberapa faktor mengapa terjadi kesalahan dalam mengkaji dan menilai mazhab Syiah. 

Pertama, mempelajari Syi'ah dari sumber-sumber yang ditulis non-Syi'ah, baik klasik maupun kontemporer dan pada saat yang sama mengabaikan pendekatan muqaran (perbandingan) dan tarikihi-naqdi (historis-kritis). 

29/07/22

Meninjau Ulang Hadits Nabi Muhammad SAW Berkhutbah dengan Mata Memerah, Suara Lantang dan Marah

 بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على سيدنا محمد وآل سيدنا محمد

Ini redaksi hadits yang dimaksud tercatat di Shahih Muslim:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ (وآله) وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ 

“Apabila Rasulullah SAW menyampaikan khutbah, kedua mata beliau memerah, suara beliau lantang dan emosional kemarahan beliau menguat (membara/berkobar-kobar)”.

Terlepas adanya perbedaan apakah maksud hadits di atas khutbah apa pun atau khutbah Jum‘at saja, yang jelas dalam mensyarah hadits ini ada ulama yang mengatakan: itu menunjukkan istimrar (terus menerus, berkesinambungan). Jadi, hadits itu dimaknai seakan-akan begitulah kebiasaan perangai yang ditampakkan Rasulullah Muhammad SAW setiap kali menyampaikan khutbah. Hadits inilah yang dijadikan dalil Pak Bahar bin Smith untuk mejustifikasi gayanya dalam berceramah.