Benarkah Muslim Syiah Mengutuk Sahabat?
Tentang ini mungkin pertanyaannya harus diubah, ”Benarkah di kalangan Syiah ada orang yang mengutuk Abu Bakar dan Umar bin Khaththab?”
Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka. (HR Al-Baihaqi)
Benarkah Muslim Syiah Mengutuk Sahabat?
Tentang ini mungkin pertanyaannya harus diubah, ”Benarkah di kalangan Syiah ada orang yang mengutuk Abu Bakar dan Umar bin Khaththab?”
Dalam diskusi buku berjudul 40 Masalah Syiah yang diadakan Balitbang Kemenag, 17 Desember 2012, Fahmi Salim (FS) menuduh telah memutarbalikkan fakta sejarah terkait dengan terbunuhnya Utsman bin Affan.
Sembari menolak keterlibatan Aisyah, Thalhah, Zubair dan sahabat-sahabat yang lain, Fahmi menduga tuduhan Kang Jalal tersebut disandarkan pada kitab al-Muraja'at karangan Syafruddin al-Musawi yang menurutnya kitab fiktif yang penuh dengan tuduhan jahat.
Ketika melihat beberapa komentar yang menanyakan tentang keberadaan mushaf ‘Ali bin Abi Thalib dan apakah Syiah mempunyai al-Quran berbeda, saya menulis status hendak menulis overview tentang mushaf imam ‘Ali. Namun, sebelum saya betul2 menulis overview itu, sudah ada yang menuduh saya akan menyebarkan keraguan terhadap mushafnya kaum Muslimin. Komentar itu saya hapus dari wall Fb karena orang seperti ini tidak bertujuan berdiskusi. Ya hanya suka nuduh!
Seseorang telah meminta untuk untuk menyampaikan komentar atas buku Banyolan Syiah Imamiyah karya Firanda Andirja Abidin, Lc, MA yang dimuat dalam situs Salam-Online; yang isinya menyatakan perawi hadis Syiah terdapat keledai. Benarkah riwayat tersebut shahih dalam khazanah hadis-hadis dalam mazhab Syiah Imamiyah?
Hadits Tsaqalain adalah wasiat dan perintah Rasulullah Muhammad SAW untuk berpegang teguh pada dua pusaka: Kitab Allah dan Ahlul Bait-‘itrahnya as. Hadits ini tercatat di kitab-kitab Sunni dan Syi‘ah dengan beberapa jalur yang kandungannya saling menguatkan. Berikut ini di antara kalimat yang termuat dalam hadits Tsaqalain:
Berikut review singkat buku “Jam’ul Quran: Bayna isykaliyyat al-nash wa-ru’yat al-istisyraq” (Pengumpulan al-Quran: Antara problem teks dan perspektif orientalisme) karya Dr. Abdul Jabbar Naji. Dibagi dalam 8 bab, buku ini menyorot tiga persoalan penting (1) problem sejarah teks al-Quran yang dinarasikan sumber-sumber Sunni; (2) keberadaan mushaf Ali sebelum proyek mushaf Abu Bakar dan Utsman, and (3) diversifikasi pandangan orientalis.
Sekarang ini kita masuk pada tahun baru Masehi. Dalam wacana keislaman di Indonesia, muncul pernyataan di media sosial bahwa ada yang mengharamkan melakukan pesta dan perayaan tahun baru. Ada pula yang menyatakan tidak haram alias membolehkan. Terkait dengan pesta tahun baru, berikut ini dua fatwa dari Ulama mazhab Syiah Imamiyyah di Iran dan Irak.
Ajaran Syiah adalah mazhab dalam Islam yang mengikuti Ahlulbait as sepeninggal Rasulullah saw. Kaum Muslim Syiah percaya bahwa mengikuti Ahlulbait adalah perintah Allah dan Rasulnya. Kami tunjukkan tiga ayat dari ayat-ayat Al-Quran yang dijadikan landasan keyakinan Syiah.
Keyakinan
Syiah yang diketahui umum sehingga ulama mazhab-mazhab lain menganggapnya
sebagai ciri khas Mazhab Syi'ah adalah keyakinan tentang kesucian leluhur
Baginda Nabi Muhammad saw. Walaupun tidak sedikit dari ulama Ahlu Sunnah yang
menyamai Syi'ah dalam keyakinan ini.
Dalam bukunya yang berjudul Al I'tiqadat, yang ditulis khusus untuk menerangkan Akidah Syiah Imamiyah Ja'fariyah Itsna Asyariyah, Syeikh Ash Shaduq -rahimahullah- menuliskan sebuah judul: Bab Al I'tiqad Fi Abai an Nabi saw (Bab Keyakinan tentang Ayah-ayah Nabi saw). Beliau berkata:
Sekapur Sirih
Saya terangkan dulu maksud judul ini. Heteredoksi diambil dari bahasa Yunani. Heter artinya beda, lain. Doxa artinya pendapat, ideologi, ajaran, dogma. Maksudnya bahwa dogma anti Syiah yang diajarkan di kampus UNIDA Gontor menyimpang bukan hanya dari motto "Gontor di atas dan untuk semua golongan", tapi juga jauh menyimpang dari ijma alim ulama dunia Islam.
Sekiranya sosoknya nyata barangkali makhluk Tuhan paling seksi yang mengalahkan Mulan Kwok adalah Ibnu Saba. Namanya selalu viral mungkin sejak jaman mpu sendok sampai yang memviralkan makan (pakai) sendok. Bangsa kadrun baik yang berhasil menggondol S3 atau yang hanya menggondol S-kopyor dan S-teler mempercayai nama ini sebagai pencipta (ideologi) Syiah. Namanya diviralkan bahwa doi seorang Yahudi die-hard masuk Islam pada jaman khalifah Usman dan berhasil menghasut massa bangkit menentang 'ketidakadilan' yang dipraktikkan kaum aristokrat lama yang berkuasa waktu itu.
Penulis buku Bukan Sekadar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syiah, yaitu Syamsuddin Arif merupakan dosen Unida Gontor hanya satu contoh dari sesat pikir kaum terpelajar dalam membaca mitos Ibnu Saba. Kasus ini kita jadikan timbangan untuk mengukur kualitas intelektual dan obyektifitas seorang akademisi.
Bukan hanya Arif, hampir semua sarjana tradisional Islam melakukan kesalahan fatal dalam riset akademik mereka. Karena itu menjadi sasaran kritik madzhab revisionis Barat. Kesalahan tersebut berporos pada penelitian bukti. Yaitu menjadikan paham/ideologi/dogma sebagai alat bukti. Ilmu logika menyebutnya kesalahan a priori. Tan Malaka dalam Madilog menyebutnya mistifikasi dan post-revisionis menyebutnya khayalisasi. Yaitu khayalan dibuat sebagai alat bukti.
Juga dalam ilmu kalam (teologi-dialektis), bahkan fiqh, Sunnah dan Syiah tak seberbeda yang dikira orang. Sudah menjadi kelaziman bahwa orang menganggap teologi Syiah lebih dekat kepada Mu'tazilah, ketimbang Asy'ariyah - yang dianggap sebagai aliran teologi ahlus-Sunnah. Pernyataan ini memang bukannya sama sekali tak mengandung kebenaran, tapi hanya sejauh dalam hal metodologi (manhaj) pembahasan topik-topik kalam. Atau paling jauh dalam hal epistemologinya.
Ada kecenderungan, bahkan pada sebagian pengamat dan pengkaji mazhab-mazhab, untuk mengontraskan mazhab Sunnah dengan mazhab Syiah, dan sebaliknya. Seolah-olah keberadaan mazhab-mazhab itu harus didukung oleh perbedaan-perbedaan yang tajam - yang tanpa itu keberadaan mazhab-mazhab itu menjadi tidak meyakinkan. Padahal, dalam makna literal-aslinya, istilah mazhab dalam dalam bahasa Arab (madzhab) bermakna "jalan", atau jalur dalam perjalanan seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Jalan memang bisa berbeda-beda, tapi tujuan bisa saja sama. Tapi, bahkan ketika jalan-jalan itu bersilangan, kesemuanya itu saling melengkapi satu sama lain. Bukan menyesatkan. Kalau ada yang tersesat, maka itu bukan karena keberadaan banyak jalan itu melainkan karena ketidaktahuan pejalan tentang jalan-jalan tersebut.
Ijtihad, kata Muhammad Iqbal, adalah upaya intelektual manusia yang merupakan suatu keharusan untuk merespon evolusi kehidupan. Iqbal membuka bukunya, Reconstruction of Religious Thought in Islam, dengan memaparkan spirit dinamis al-Qur'an, yang menampilkan penciptaan sebagai suatu proses yang evolusioner. Bahwa, seperti kata Iqbal, alam semesta ini bukanlah suatu block universe.
Disetiap bersama Al-Husain, Nabi Muhammad saw bersabda mengingatkan para sahabatnya, "Husain dariku dan aku dari Husain, Allah mencintai siapa yang mencintai Al-Husain, dan Allah memusuhi siapa yang memusuhi Al-Husain."
Tidak ada bencana lebih besar yang ditimbulkan pada umat Islam, selain yang dilakukan Bani Umayyah.
Alquran sampai menisbatkan penyebutan Syajarah Mal'unah (pohon terkutuk) kepada Bani Umayyah, setidaknya itu menurut mufassir Syiah... hadis yang menyebutkan misdaq dari pohon terkutuk dalam surah al-Isra ayat 60 adalah Bani Umayyah juga terdapat dalam kitab Ahlusunnah, tapi sebagian melemahkan derajat hadisnya....
Sekitar dua atau tiga hari yang lalu ini saya menemukan dokumen sejarah berharga yang berasal dari abad ke-6 H. Bisa dibilang catatan ini terpinggirkan, sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah dikemukakan khususnya di tanah air kita ini. Di antara peninggalan penting ‘Abdul Jalil bin Abi Husain al-Qazwini, ulama abad ke-6 H yang dikenal kepandaian, kesalehan dan kemuliaan akhlaknya, adalah karyanya yang berjudul Ba‘adh Matsalib al-Nawashib fi Naqdh Ba‘adh Fadhaih al-Rawafidh. Menurut Sayyid Muhammad Hadi al-Milani dalam Qadatuna Kaifa Na’rifuhum jilid 5, halaman 558, buku ‘Abdul Jalil al-Qazwini itu selesai ditulis sekitar tahun 560 H.
Pengikut mazhab ini sedikit bukan karena dibenci para pemegang status quo dan kuasa kultural atas umat juga bukan dalil-dalil kebenarannya tidak banyak dan tidak kuat tapi mungkin karena konsekuensinya sangat berat bila dianut. Bahkan sebagian yang merasa sebagai penganutnya pun enggan menerima konsekuensi praktisnya. Mungkin salah satu indikatornya adalah lemahnya respon terhadap terhadap tema taklif dan besarnya antusiasme terhadap tema-tema lain yang tak memantulkan konsekuensi praktis seperti mistisme, doa, sejarah dan lainnya.