Ajaran Syiah adalah mazhab dalam Islam yang mengikuti Ahlulbait as sepeninggal Rasulullah saw. Kaum Muslim Syiah percaya bahwa mengikuti Ahlulbait adalah perintah Allah dan Rasulnya. Kami tunjukkan tiga ayat dari ayat-ayat Al-Quran yang dijadikan landasan keyakinan Syiah.
Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka. (HR Al-Baihaqi)
24/11/22
23/11/22
Sujud Syukur Dilakukan Setelah Shalat Fardhu
Dalam mazhab Ahlul Bait as, kita diajarkan untuk sujud syukur sambil membaca syukran lillah 3x setiap setelah shalat fardhu (rujuk: riwayat Imam 'Ali al-Ridha as di kitab 'Ilal al-Syarai, juz 2, halaman 49)
22/11/22
Quranan Arabiyyan dalam Tafsiran Allamah Thabathabai
Ayat 3 surah Fushshilat atau nama lainnya surah Hakim As Sajdah satu di antara banyak ayat yang menfisati Al Qur'an atau ayat-ayatnya dengan 'Arabiy.
21/11/22
Mahabbah dalam Tasawuf
Secara etimologi, mahabbah adalah bentuk masdar dari kata: حب yang mempunyai arti: a) membiasakan dan tetap, b) menyukai sesuatu karena punya rasa cinta. Dalam bahasa Indonesia kata cinta, berarti: a) suka sekali, sayang sekali, b) kasih sekali, c) ingin sekali, berharap sekali, rindu, makin ditindas makin terasa betapa rindunya, dan d) susah hati (khawatir) tiada terperikan lagi.
19/11/22
Shalat Jumat dalam Fiqih Syiah Imamiyah
Shalat Jumat dimuat dalam al-Quran surah Jumuah ayat 9, “Hai orang yang beriman, idza nuudiya lis shalaati min yawmil jumu'ah... (apabila dipanggil shalat pada hari Jumat...).” Dalam mazhab Syiah Imamiyah bahwa yang berhah memanggil shalat bukan (hanya) seruan azan (muazin), tetapi Amirul Mukminin pada zamannya.
Saat zaman Rasulullah saw, beliau yang menjadi nadi (penyeru) orang-orang untuk menghadiri shalat Jumat. Di masa Khulafa dan Imam Ali maka mereka yang menjadi penyeru. Namun dalam Fiqih Jafari (Syiah Imamiyah atau Ahlulbait) yang dimaksud dengan 'sang penyeru' adalah Rasulullah saw dan para Imam yang dipilihnya karena syaratnya Imam shalat khusus ini harus 'adalat' (adil) karena salat Jumat ini bukan shalat biasa. Ini adalah pertemuan agung mingguan antara Ulil Amri (Rasul dan para Imam) dengan seluruh kaum Muslimin.