Muncul tuduhan bahwa orang-orang Syiah menambahkan dalam azannya: Hayya ‘ala Khayril ‘Amal. Ucapan itu tidak diajarkan Nabi Muhammad saw dan termasuk bid’ah. Hayya ‘ala khayril ‘amal bukan tambahan, tetapi kalimat yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Kemudian dihilangkan oleh salah satu mazhab dalam Islam. Syiah mempertahankan sunnah Nabi Muhammad saw dan menjadikannya sebagai syi’ar mazhabnya.
Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka. (HR Al-Baihaqi)
12/04/22
11/04/22
Shalawat kepada Keluarga Rasulullah saw
Telah muncul tuduhan bahwa orang Syiah mengucapkan shalawat kepada Rasulullah saw dan Ali bin Thalib sekaligus, seperti terlihat dalam shalawat mereka: “Allahumma shalli alla Muhammad wa aali (aali = keluarga Ali).”
10/04/22
Belajar Tasawuf: Al-Tahzib, Upaya Memperbaiki Adab [by Kholid Al Walid]
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا
رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim)
melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika
bintang itu terbenam (sirna) dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam
(sirna).” (Qs Al-Anam: 76)
Ayat ini menjadi dasar dari Al-Tahzib, yang bermakna memperbaiki adab, perilaku, sikap, perbuatan dan ilmu. Adab yang baik dari Ibrahim as dengan perkataan ini karena berargumentasi melalui sifat al-imkan, yaitu kesirnaan; sedangkan wujud niscaya terlepas dari sifat tersebut. Ilmunya mengantarkan dirinya pada kesempurnaan dan menolak ikatan selain kepada-Nya. "Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan" (QS 6:79).
09/04/22
Shalat di Qashar saat Safar (Bepergian)
Musim Syiah selalu mengqashar shalat fardhu ketika ia menjadi musafir (bepergian). Padahal yang lebih utama, menurut Ahlussunnah, adalah menyempurnakan shalat, bukan memendekkannya.
“Ada perselisihan pendapat tentang, apakah qashar shalat dalam perjalanan itu suatu ‘azimah (keharusan mutlak) yang tidak boleh ditinggalkan, atau hanya merupakan rukhshah (keringanan) yang menjadi pilihan antara mengqashar dan menyempurnakan? Dalam hal ini Hanafi dan Imamiyah berkata: Ia merupakan ‘azimah (sesuatu yang diharuskan). Jadi qashar adalah ketentuan. Sedangkan mazhab lainnya mengatakan: ia hanya rukhshah. Jika mau dikerjakan qashar, dan kalau tidak, boleh menyempurnakan shalat.”[1]
Menurut mazhab Syiah Imamiyah, dalam perjalanan shalat fardhu wajib di qashar berdasarkan keterangan-keterangan di bawah ini.
08/04/22
Mengapa Muslim Syiah Tidak Puasa pada Waktu Bepergian?
Pernah muncul pertanyaan: mengapa Muslim Syiah tidak berpuasa pada waktu bepergian? Berkenaan dengan berbuka pada waktu bepergian (safar), para fuqaha terbagi pada dua kelompok. Kelompok pertama berpendapat bahwa berbuka dalam perjalanan adalah ‘azimah, kewajiban yang tidak ada pilihan di dalamnya. Kelompok kedua berpendapat berbuka dalam safar itu rukhshah, pilihan. Kita boleh memilih berbuka atau berpuasa. Kelompok kedua ini berbeda dalam menentukan mana yang lebih baik-berbuka atau berpuasa.



