Tangan lurus ketika berdiri shalat adalah disebut irsal; sedangkan posisi tangan kanan di atas tangan kiri disebut takattuf, bersedekap. Semua mazhab dalam Islam sepakat tentang tidak adanya kewajiban untuk takattuf. Tetapi mereka berbeda pendapat dalam hal tidak wajibnya itu. Kelompok pertama berpendapat bahwa takattuf itu hukumnya sunnat (mustahabbah) pada shalat wajib dan shalat sunnat. Inilah pendapat mazhab Hanafi, Syafii, Hanbali.
Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka. (HR Al-Baihaqi)
14/04/22
13/04/22
Mengusap Kaki dalam Wudlu
Seseorang pernah menyampaikan bahwa orang Syiah itu berwudlu dengan mengusap kaki, padahal Sunnah Rasulullah saw mengharuskan kita membasuh kaki. Perlu diketahui kaum Muslim Syiah mengusap kaki karena mengikuti Al-Quran: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan mata kaki (QS Al-Maidah ayat 6).
12/04/22
Hayya ala Khayril Amal dalam Azan
Muncul tuduhan bahwa orang-orang Syiah menambahkan dalam azannya: Hayya ‘ala Khayril ‘Amal. Ucapan itu tidak diajarkan Nabi Muhammad saw dan termasuk bid’ah. Hayya ‘ala khayril ‘amal bukan tambahan, tetapi kalimat yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Kemudian dihilangkan oleh salah satu mazhab dalam Islam. Syiah mempertahankan sunnah Nabi Muhammad saw dan menjadikannya sebagai syi’ar mazhabnya.
11/04/22
Shalawat kepada Keluarga Rasulullah saw
Telah muncul tuduhan bahwa orang Syiah mengucapkan shalawat kepada Rasulullah saw dan Ali bin Thalib sekaligus, seperti terlihat dalam shalawat mereka: “Allahumma shalli alla Muhammad wa aali (aali = keluarga Ali).”
10/04/22
Belajar Tasawuf: Al-Tahzib, Upaya Memperbaiki Adab [by Kholid Al Walid]
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا
رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim)
melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika
bintang itu terbenam (sirna) dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam
(sirna).” (Qs Al-Anam: 76)
Ayat ini menjadi dasar dari Al-Tahzib, yang bermakna memperbaiki adab, perilaku, sikap, perbuatan dan ilmu. Adab yang baik dari Ibrahim as dengan perkataan ini karena berargumentasi melalui sifat al-imkan, yaitu kesirnaan; sedangkan wujud niscaya terlepas dari sifat tersebut. Ilmunya mengantarkan dirinya pada kesempurnaan dan menolak ikatan selain kepada-Nya. "Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan" (QS 6:79).


