23/03/23

Tadabbur al-Quran (1) Memahami Manusia dalam al-Quran: Khalifah [by KH Dr Kholid Al Walid]

Tadinya saya hanya ingin mengisi Ramadhan kali ini dengan ceramah-ceramah singkat menjelang berbuka. Luar biasanya, ternyata banyak sahabat menanyakan tulisan Ramadhan yang biasanya menjadi tradisi saya setiap Ramadhan. 

Seingat saya ada 14 sahabat saya yang bertanya, baik langsung maupun tidak. Saya merasa nggak banyak beribadah seperti orang lain. Kadang saya lebih banyak menggunakan kesempatan bulan suci Ramadhan untuk membaca dan merenung hingga menjadi tulisan-tulisan. Dan kali ini saya ingin mempersembahkan tulisan selama Ramadhan khusus untuk sahabat-sahabat saya tersebut dan semua yang punya waktu membacanya.

22/03/23

Kenapa sih Harus Ada Ujian? [ Ustadz Miftah F. Rakhmat ]

 Bismillahirrahmanirrahim. 

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad.

“Bi, kenapa sih harus ada ujian?” 
Semalam sebelum hari H Ujian Sekolah, Ali anakku masih juga mempertanyakannya. 

“Ujian itu bukan hanya untuk anak-anak. Tapi juga buat guru. Supaya Sekolah tahu sejauh apakah guru-guru telah mengajarmu?”
“Ya, kalau begitu kenapa tidak seperti kuis harian saja? Kan bisa juga. Kenapa harus UN?” Kritis juga Ali mempertanyakannya.

20/03/23

Fadhilah Bulan Suci Ramadhan


Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa aalihi wasallam menyampaikan khutbah kepada kami pada suatu hari dan bersabda:

18/03/23

Tingkatan al-Nafs [by Kholid Al Walid]

Al-Nafs dalam proses pergumulan di antara Syahwat, Aql dan Qalbnya menyebabkan terjadinya tingkatan pada al-Nafs manusia. 

Nafs al-Amarah

Ketika Syahwat mengambil kendali atas Aql dan Qalb maka kondisi al-Nafs nya adl kondisi Nafs al-Amarah.

17/03/23

al-Balaa al-Mubiin [by Muhammad Bhagas]

 Di antara perkataan Nabi Isma‘il as yang terekam dalam al-Qur‘an, bagian ayat 102 surah ash-Shaffat:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ


Yaa abati if‘al maa tu‘mar (Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu).

Kata tu‘mar (diperintahkan) adalah fi‘il mudhari’ majhul (kata kerja sekarang pasif). Hal ini mengisyaratkan bahwa jawaban Nabi Isma‘il as menjadi bukti kuat bahwa dirinya siap melaksanakan perintah Allah Ta‘ala, dan bahwa hendaknya sang ayah (Nabi Ibrahim as) juga melaksanakan perintahNya yang sedang maupun yang akan diterimanya.