26/11/20

Membaca Al-Quran dengan Diiringi Musik

 Soal: Apa pendapat Anda mengenai cara baru dalam membaca ayat-ayat Al-Quran dengan tujuan menghasilkan pengaruh lebih besar, misalnya bacaannya mirip lagu (yang diiringi musik)?

14/11/20

Membedah Buku: Mengapa Saya Keluar dari Syiah? [9]

 Tentang Pengharaman Mut’ah Pada Hari Khaibar

Salah satu persoalan fikih antara sunni-syiah adalah masalah hukum mutah. Ulama syiah sepakat akan halalnya nikah mut’ah berdasarkan al-Quran dan sunnah Rasulullah saaw dan ahl al-baitnya. Sedangkan ulama sunni menyatakan bahwa nikah mut’ah pernah dihalalkan, tetapi kemudian diharamkan oleh Rasulullah saaw. Tapi anehnya, Husein al-Musawi al-Kadzab yang mengaku mujtahid ini, membuat fatwa tanpa dasar dan argumentasi yang utuh dengan mengharamkan nikah mut’ah hanya dengan menggunakan satu hadits yang sempat ditemukannya di dalam kitab syiah. Yaitu hadits yang coba dipopulerkan olehnya dan oleh para pengikutnya yang diriwayatkan oleh Imam Ali as, tentang pengharaman nikah mut’ah pada hari Khaibar. Untuk itu, mari kita bahas hadits tersebut sehingga menjadi jelas bagi kita semua keadaannya.

13/11/20

Membedah Buku: Mengapa Saya Keluar dari Syiah? [8]

Husain Al-Musawi Al-Kadzab Memalsukan Hadits Tentang Mut’ah

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta” (Q.S. an-Nahl : 105).

Rasulullah saaw memerintahkan al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat kepada kaum al-Harts bin Dlirar al-Khuzai yang telah memeluk Islam. Tetapi di tengah jalan, al-Walid merasa gentar dan kembali kepada Nabi Muhammad saaw dengan membuat laporan palsu bahwa al-Harts dan kaumnya tidak mau membayar zakat bahkan ingin membunuhnya. Mendengar laporan ini Rasulullah saaw mengutus utusan lagi untuk memperjelas persoalannya sebelum mengambil tindakan tegas. Hasilnya, ternyata al-Walid berdusta kepada Rasulullah saaw tentang al-Harts dan kaumnya. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan menurunkan Q.S. al-Hujurat : 6, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. al-Hujurat: 6)  

12/11/20

Membedah Buku: Mengapa Saya Keluar dari Syiah? [7]

Husein al-Musawi memanipulasi ayat al-Quran tentang sikap kebencian Fatimah Zahra as atas kelahiran Imam Husain as

Tuhan berfirman dalam al-Quran mengingatkan kita untuk tidak berdusta, "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta” (QS an-Nahl: 105).

Ayat di atas memberikan ancaman keras bagi para pendusta, terutama berdusta atas nama Tuhan. Husein al-Musawi ternyata telah membuat dirinya dilumuri kedustaan melalui bukunya tersebut. Telah kita perhatikan bersama, bagaimana hebatnya taktik Husein al-Musawi untuk mengelabui pembaca dengan memotong-motong riwayat-riwayat dari kitab-kitab AhlulBait sehingga riwayat tersebut menjadi tidak sesuai dengan teks asli dan maksud periwayatan. Tetapi tidak hanya sampai di situ, Husein al-Musawi rela memotong-motong ayat al-Quran (yang terselip di dalam sebuah hadits) untuk mengelabui pembacanya, sehingga mengubah maknanya dan menjadikan ayat itu sebagai hadits. Mari kita buktikan kedustaan yang dilakukan oleh Husein al-Musawi al-Kadzab. 

11/11/20

Alasan Kemiripan Nama Putra-putra Baginda Ali dengan Nama Tiga Khalifah

Dengan merujuk kepada bukti-bukti sejarah, kita akan mengetahui bahwa setelah syahadah Sayidah Zahra as, Imam Ali menikah dengan beberapa wanita dan mempunyai anak dari pernikahan itu. Ketiga nama anaknya itu sama dengan nama-nama ketiga khalifah.

Nama-nama mereka adalah Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib yang merupakan anak dari Laila putri Mas’ud Tsaqafi[i], Utsman yang merupakan anak dari Ummu Banin. Kedua putra Imam Ali ini syahid di medan Karbala dalam rangka membela saudaranya, Imam Husain as[ii]. Dan putra ketiga Imam Ali As adalah ‘Umar.[iii]

Dalam mengkaji sebab-sebab kesamaan nama putra-putra (Baginda Ali ini) dengan nama seseorang hal itu dapat ditinjau dari beberapa sisi: