Pluralitas atau keragaman seringkali disamakan dengan pluralisme. Keduanya merujuk pada kenyataan adanya perbedaan. Dalam konteks agama, kita tahu bahwa ada banyak agama di dunia. Dan perbedaan di antara agama itu sangat jelas. Dalam pengertian deskriptif, pluralitas dan pluralisme memang sama. Dua istilah tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan adanya keragaman agama atau perbedaan agama. Dalam pengertian ini, maka pluralisme bukanlah sesuatu yang kontroversial, karena semata mengakui kenyataan adanya keragaman agama.
Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka. (HR Al-Baihaqi)
16/04/23
10/04/23
Catatan Penutup tentang Gagasan Smith [by Munim Sirry]
Tak terasa ini status Fb ke- 9 yang mencoba merangkum butir-butir gagasan Wilfred Cantwell Smith tentang Islam dan agama-agama di dunia. Tentu banyak hal dari ide Smith yang tidak saya diskusikan, karena tulisan berseri berupaya menjaga kesinambungan sehingga letupan-letupan ide yang berada di luar alur tulisan akan cenderung diabaikan. Lebih dari itu, sulit mendiskusikan gagasan seorang sarjana prolifik seperti Smith secara komprehensif. Dalam catatan penutup ini, saya akan menggarisbawahi hal-hal yang saya anggap menonjol dan kemungkinan kritiknya.
Tadabbur al-Quran (15): Zaluman dan Jahula [by KH Dr Kholid Al Walid]
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh. (Al-Aḥzāb [33]:72)
Dua karakteristik manusia yang dinyatakan Allah SWT yaitu zaluman dan jahula.
08/04/23
Tadabbur al-Quran (14): Syahwat [KH Dr Kholid Al Walid]
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
Dalam ayat ini Allah SWT
menghiasi diri manusia dengan satu elemen yang disebut syahwat. Secara bahasa,
syahwat artinya menyukai dan menyenangkan (shahiya, shaha-yasha atau
shahwatan). Sedangkan secara istilah, syahwat adalah kecenderungan jiwa
terhadap apa yang dikehendakinya (nuzu’an nafs ila ma turiduhu). Dalam
al-Quran, kata syahwat terkadang dimaksudkan untuk obyek yang diinginkan.
07/04/23
Tadabbur al-Quran (13) Memahami Manusia dalam al-Quran: Qalb dalam Alquran [by KH Dr Kholid Al Walid]
Pertama, Al-Shadr (dada). Merupakan bagian terluar dari qalb yang umumnya mengindikasikan perasaan atau emosi pada diri seseorang. Kadang ada yang memaknainya dengan kata جدار القلب (dinding hati) karena merupakan lapisan terluar bagi hati. Melalui shadr ini keluar masuknya maklumat, bahkan bisikan-bisikan syaithaniyyah. Javad Nurbakhsy menyebutya sebagai ruang pertahanan bagi qalb dalam menghadapi pertempuran dengan bisikan kebatilan. Jika kebatilan yang menang maka muncul kecenderungan terhadap keburukan pada qalb. Sempit dan lapangnya perasaan seorang hamba terjadi di ruang ini. Al-Qur'an menyebutkan: